Bandung, Sabtu, 25 Juli 2026 — Pesantren PERSIS 27 Situaksan kembali menyelenggarakan kegiatan Ihtifal Usbu'i sebagai agenda rutin pekanan yang menjadi wadah pembinaan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris sekaligus penguatan karakter keislaman para santri. Kegiatan yang dipandu oleh Adzkiya Mughni Shaleha (3 Tsanawiyah) sebagai pewara ini berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh antusiasme dari seluruh santri.

Pemateri pertama, Muhammad Rayya Firdaus (2 Mu'allimin), menyampaikan pidato berbahasa Arab yang mengangkat tema hakikat manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Beliau menjelaskan bahwa manusia memiliki dua asas utama kehidupan, yaitu sebagai hamba yang beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah di bumi. Berangkat dari kandungan QS. Al-Baqarah [2]: 30-31 tentang penciptaan khalifah, beliau menegaskan bahwa Allah menganugerahkan manusia kelebihan berupa akal dan kemampuan memimpin.
Dalam pemaparannya, M. Rayya Firdaus juga mengutip pandangan Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah bahwa Rasulullah ﷺ merupakan teladan utama dalam kepemimpinan yang kemudian diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin. Oleh karena itu, kepemimpinan merupakan amanah besar yang hanya layak dipikul oleh orang-orang yang memiliki ilmu, kemampuan, integritas, dan kesehatan jasmani. Amanah tersebut kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. pada hari kiamat.

Selanjutnya, Khazna Setia Choirunna (2 Mu'allimin) membawakan pidato berbahasa Arab mengenai pentingnya menghadapi setiap kesulitan dengan doa, tawakal, dan ikhtiar. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pasti diuji, baik dalam menuntut ilmu, mencari rezeki, maupun menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Seorang muslim, menurutnya, harus memiliki keyakinan bahwa pertolongan Allah akan hadir bagi hamba yang senantiasa berdoa, berusaha, dan bertawakal. Salah satu doa yang dianjurkan ialah:
اللَّهُمَّ يَسِّرْ وَلَا تُعَسِّرْ
“Ya Allah, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit.”
Melalui doa, ibadah, dan kesungguhan dalam berikhtiar, seorang muslim akan memperoleh kemudahan serta ridha Allah Swt. dalam setiap urusannya.

Pidato berikutnya disampaikan oleh Abdullah Azzam Prasetyo (1 Mu'allimin) yang menyampaikan pidato berbahasa Arab mengangkat tema kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ia menjelaskan bahwa polusi dan pencemaran lingkungan telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Menurutnya, penyelesaian masalah lingkungan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai contoh nyata, Azzam mengapresiasi program Jum'at Bersih yang menjadi bagian dari kegiatan RG–UG di Pesantren PERSIS 27 Situaksan. Program tersebut merupakan bentuk pendidikan karakter sekaligus ikhtiar menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pesantren sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam.

Pada sesi tausiyah, Dr. H. Nashruddin Syarief, M.Pd.I. menyampaikan kajian yang mengupas makna ungkapan, "Manusia adalah tempatnya salah." Beliau menjelaskan bahwa hadits
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
"Setiap anak Adam (manusia) adalah orang yang banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat." (Sunan at-Tirmidzi, Abwāb Shifah al-Qiyāmah war-Raqā`iq wal-Wara' 'an Rasulil-`Llāh Shallal-`Llāh 'alaih wa Sallam, no. 2.499)
sering dipahami secara kurang tepat apabila tidak dibedakan antara istilah khatha' dan itsm. Khatha' merupakan kesalahan yang terjadi tanpa kesengajaan, sedangkan itsm adalah dosa yang dilakukan dengan sengaja.
Beliau menerangkan bahwa terdapat beberapa keadaan yang tidak menyebabkan seseorang berdosa, seperti kesalahan yang tidak disengaja (khatha'), lupa (nisyan), dan perbuatan yang dilakukan karena dipaksa (mā ustukriha 'alaihi). Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri pernah lupa dalam shalat sehingga beliau melaksanakan sujud sahwi. Dalam kesempatan lain, Nabi ﷺ pernah mengatakan bahwa bacaan seorang sahabat mengingatkan beliau pada ayat yang sebelumnya terlupa.
Al-Ustadz juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan kisah murid Nabi Musa yang lupa menceritakan kejadian hilangnya ikan tersebut kepada Nabi Musa karena terpengaruh oleh setan, lalu, pelayan itu berkata berkata bahwa dirinya dibuat lupa oleh setan.
Kemudian, al-Ustadz menegaskan bahwa Al-Qur`an adalah adz-Dzikr, sehingga apabila seseorang lalai dari mengingat Allah dan meninggalkan Al-Qur`an, hendaknya ia bermuhasabah karena bisa jadi hal tersebut merupakan tipu daya setan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an, di antaranya pada QS. Al-Mujadalah [58]: 19 dan QS. Al-Hasyr [59]: 19.
Menutup tausiyahnya, al-Ustadz Nashruddin memotivasi seluruh santri agar senantiasa memperbanyak dzikir, tilawah, dan interaksi dengan Al-Qur`an. Beliau turut membagikan pengalaman pribadinya yang mampu mengkhatamkan Al-Qur`an setiap 12 hingga 13 hari sekali sebagai bentuk kedisiplinan menjaga hubungan dengan Allah melalui al-Qur`an. Beliau mengingatkan agar para santri tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk tidur berlebihan, bermain gim (mabar), ataupun hiburan yang melalaikan sehingga mengurangi kualitas hafalan dan kedekatan dengan Al-Qur`an.
25 Juli 2026 M/ 10 Shafar 1448 H

