Pesantren Persis 27

Pemenang Sejati Adalah Penuntut Ilmu

⁠Ihtifal Usbu’i ialah kegiatan berceramah dengan lintas bahasa; bahasa asing (b. Arab, b. Inggris, dan lainnya), kegiatan ini dipandu oleh seorang MC (Master of Ceremony) dari santriwan/wati, lalu, ceramah disampaikan oleh santriwan/wati dan asatidzah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pada pukul 06.45 sampai 07.45 WIB.
Pada kesempatan kali ini, Muwashi pertama ialah saudara Azka dari kelas 2 Mu’allimien yang menyampaikan taushiyahnya dengan bahasa Arab. Beliau menyampaikan salah satu nasihat asy-Syaikh Sulaiman ar-Ruhailiy dalam salah satu majelisnya sebagai berikut:
لَنْ يَنَالَ العِلْمَ عَجُوْلٌ وَ لَا مَلُوْلٌ
“Ilmu tidak akan pernah didapatkan oleh orang yang selalu tergesa-gesa dan merasa jenuh dalam menuntutnya”
Pada nasihat yang beliau kutip tersebut, saudara Azka menekankan bahwa menuntut ilmu memerlukan kegigihan dan sikap tidak puas agar selalu merasa haus terhadap ilmu. Sikap ini penting dimiliki oleh setiap penuntut ilmu, agar bisa benar-benar menjaga konsistensinya untuk menuntut ilmu dimanapun dan kapanpun orang itu berada.
Kemudian, taushiyah yang kedua disampaikan oleh saudari Khanza dari kelas 2 Mu’allimien yang menyampaikan taushiyahnya dengan bahasa Arab juga. Pada taushiyahnya, beliau menyoroti salah satu ungkapan arab yang terkenal tentang waktu:
الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
“Waktu itu layaknya pedang; bila kamu tidak menggunakannya, bersiaplah ditebas olehnya”
Dalam hal ini, saudari Khanza memberikan penegasan bahwa waktu itu menjadi penentu kesuksesan seseorang. Tatkala orang tersebut tidak memaksimalkan waktunya untuk hal yang bermanfaat dan berbagai kebaikan, maka, waktu akan menjadi bumerang yang membinasakannya dalam kesengsaraan.
Setelah itu, muwashi ketiga ialah saudara Azka Umar dari 1 Mu’allimien yang menyampaikan taushiyahnya berbahasa Inggris. Pada taushiyahnya, saudara Umar menegaskan bahwa setiap orang jangan pernah berlaku tidak adil terhadap porsi aktivitas dunia dan akhiratnya. Hal ini mengacu pada salah satu ayat QS. al-Qashash [28]: 77
وَٱبۡتَغِ فِیمَاۤ ءَاتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡـَٔاخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِیبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡیَاۖ وَأَحۡسِن كَمَاۤ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَیۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِی ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِینَ
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
Melalui ayat di atas, saudara Azka Umar memberikan penjelasannya bahwa, porsi dunia (bersosial) dan akhirat (beribadah) mesti seimbang. Jangan sampai seseorang terlalu fokus untuk beribadah sampai tidak peduli dengan kehidupannya bermasyarakat dan berkeluarga tatkala di dunia. Begitupula sebaliknya, jangan sampai seseorang terlalu fokus mencari kesenangan di dunia sampai melupakan porsinya untuk menyadari kehambaannya di hadapan Allah Swt.
Selanjutnya, taushiyah diakhiri dengan penyampaian nasihat dari al-Ustadz Fathur. Beliau mengawali nasihatnya dengan QS. al-‘Ashr:
وَ العَصْرِ () إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ()
“Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian”
Melalui surat al-‘Ashr, al-Ustadz Fathur menjelaskan tentang kerugian orang-orang yang binasa di dunia oleh sebab pilihan mereka untuk tidak menghargai waktunya. Oleh karena betapa banyak kisah-kisah dalam al-Qur`an yang mengisahkan tentang kerugian orang-orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk kepentingan nafsunya semata, tidak memikirkan kehidupan setelah kematiannya; yaitu kehidupan di akhirat. Inilah maksud dari penjabaran sifat-sifat buruk semisal kedengkian, kesombongan, dan berbagai sifat buruk lainnya yang dijelaskan di dalam al-Qur`an sebagai pelajaran penting agar umat manusia tidak mengikuti rekam jejak orang-orang tercela termaksud.
Dengan demikian, pada Ihtifal Usbu’i kali ini, pembahasan dari setiap muwashi memiliki keterkaitan yang dapat dijadikan benang merah, bahwa waktu menjadi barang yang paling berharga, dan para penuntut ilmu yang menghargai waktunya dengan selalu menebar kebaikan dan kebermanfaatan merekalah pemenang sejati yang dapat bersikap bijak dalam memenej waktunya dan memaksimalkannya untuk selalu berinteraksi dengan ilmu.
BTB
Sabtu, 23 Agustus 2025 M/ 28 Shafar 1447 H
Pukul 08.28 WIB.